Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

12 April 2012

PENGARUH CERITA DONGENG ANAK TERHADAP MENTAL & PRESTASI SEBUAH BANGSA

David McClelland, seorang pakar psikologi sosial, mengungkapkan hasil penelitiannya yang menyimpulkan sebuah teori bahwa cerita dongeng untuk anak sebelum tidur sangat mempengaruhi prestasi suatu bangsa. McClelland memaparkan penelitiannya terhadap dua negara terkuat abad 16 yaitu Inggris dan Spanyol.

Cerita anak di negara Inggris kaya akan muatan spritualitas dan motivasi untuk maju. Sebaliknya, cerita anak di Spanyol penuh dengan muatan yang membuat anak terlelap dan ternina-bobokan.

Dari begitu banyak cerita dari berbagai negara yang dikumpulkan McClelland dan kemudian diteliti, menunjukkan bahwa negara yang pertumbuhan ekonominya sangat tinggi adalah negara yang memiliki cerita dongeng anak mengandung need for achievement (kebutuhan berprestasi) yang tinggi.

Cerita si Kancil dan Mental Bangsa Indonesia

Kemudian salah satu guru besar fakultas budaya universitas Indonesia, Ismail Marahaimin, mengungkapkan hasil penelitian yang senada. Dongeng si Kancil Mencuri Mentimun yang sangat populer di Indonesia bisa jadi adalah salah satu penyebab bobroknya mental pemimpin bangsa. Kancil mencerminkan tokoh yang cerdas tapi licik. Secara tidak disadari cerita ini akan melekat dalam alam bawah sadar anak-anak bahwa mental tokoh seperti kancil patut ditiru.

Oleh karena itu, perlu digalakkan kembali dongeng anak-anak yang memotivasi untuk berprestasi, yang mendidik dan menumbuhkan keinginan untuk maju.

Tugas Para Penulis, Pendidik, dan Orang Tua

Sudah selayaknya menjadi tugas para penulis Indonesia, untuk menciptakan cerita-cerita anak yang bermutu. Jika mulai hari ini saja Indonesia mampu menerbitkan karya sastra anak seperti yang dimiliki Inggris, maka jika merujuk pada penelitian McClelland, 25 tahun ke depan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tumbuh pesat.

Tentu hal ini juga tidak terlepas peran dari para pendidik dan orang tua, untuk membiasakan siswa dan putra-putrinya membaca cerita dongeng anak yang bermutu, yang mengandung semangat berprestasi lebih banyak lagi. Karena disadari atau tidak, mental bangsa beberapa tahun ke depan, adalah sangat dipengaruhi oleh mental yang disiapkan untuk anak-anak sekarang.

Para pendidik dan orang tua hendaknya benar-benar memilihkan bacaan-bacaan yang bagus untuk anak dan bisa dibacakan sebagai pengantar tidur atau saat anak mengalami kejenuhan belajar.

The last but not least... saat ini pun ada begitu banyak tontonan di TV yang sangat tidak mendidik (meski tidak semua), dari mulai tontonan sinetron, berita miring, dan masih banyak lagi.

Oleh sebab itu, sangat disarankan Anda untuk bisa memilah mana yang layak ditonton dan mana yang tidak. Karena tanpa disadari, setiap tontonan bisa mempengaruhi mental Anda, dan juga keluarga.

Sumber : http://www.anneahira.com

29 Maret 2011

BELAJAR MENULIS


Menulis sering diasosiasikan anak dengan pengalaman memalukan seperti diremehkan, membuat ayah-ibu kesal, sikap apologi jika mempunyai tulisan buruk.

Ada beberapa hal yang membuat menulis dengan tangan lebih sulit pada satu anak ketimbang anak lainnya.  Salah satunya adalah karena masalah perkembangan. 

          Keterampilan motorik halus adalah kemampuan mengontrol gerakan yang halus dan tepat dengan jari-jari, pergelangan tangan, dan tangan.  Anak harus mengembangkan kemampuan ini sebelum mereka bisa menulis sebenarnya. 

Perkembangan keterampilan ini berbeda antaranak.  Ada yang sudah mempunyai keterampilan yang luar biasa pada usia 2 atau 3 tahun.  Yang lainnya malah masih mengembangkan keterampilan itu pada usia 5 tahun bahkan lebih.

            Erin Brown Conroy, penulis Writing Skill Builders mengatakan bahwa koordinasi tangan dan mata mulai berkembang pada usia awal anak.  Lalu anak perlu menyempurnakan koordinasi itu untuk belajar keterampilan menulis.  Lewat pengulangan dan latihan gerakan tertentu, otak dan otot-otot belajar bekerja bersama sebagai tim.

          Conroy dan sejumlah pakar lain mendorong para orang tua untuk memberikan kegiatan pra menulis yang beragam pada anak-anak.  Kegiatan itu bertujuan untuk mempersiapkan perkembangan keterampilan yang dibutuhkan.  “Tugas-tugas motorik halus apa pun yang mendorong koordinasi mata-tangan membantu anak menulis,” tutur Conroy.

            Apa saja kegiatan itu? Penulis sejumlah buku pengasuhan anak itu menyebutkan  di antaranya memasukkan kerikil ke dalam tabung berlubang kecil, memindahkan koin, kancing dan mote dari satu tempat ke tempat lain dengan jari telunjuk dan ibu jari.

Memegang Pensil

            Bagaimana cara si kecil memegang pensilnya? Inilah hal pertama yang harus dilihat pada anak yang mengalami kesulitan menulis.  Memegang dengan cara yang salah bisa menyebabkan anak menyiksa jari-jari tangannya untuk memanipulasi pensil itu.

            Begitu anak bisa memegang pensil dengan benar, ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan.  Conroy memberikan beberapa tips sebagai berikut: menelusuri jejak tulisan orang dewasa, lalu menulis yang sama di bawahnya; menulis keterangan di bawah gambar; membuat desain yang berulang; memasukkan benang ke dalam mote; menelusuri bentuk dan huruf dengan jari, dan kemudian dengn tongkat ke permukaan pasir atau beras.

Lebih Serius

          Erika Karres, penulis Make Your Kids Smarter: 50 Top Teacher Tips, percaya bahwa latihanlah yang terpenting untuk memperbaiki tulisan.  Setidaknya, katanya, dua kali sehari.
          Bila sudah berbagai latihan tetap tanpa hasil, mungkin sudah waktunya orangtua melihat masalah itu lebih dekat lagi.  “Jika kegiatan menulis dipengaruhi sesuatu yang terjadi dalam hidup si anak, tentu saja, belajar menulis menjadi sulit baginya.  Jika begitu, pendekatan medis dan yang lainnya tak boleh diabaikan,” katanya.

            Integrasi sensorik dan kesulitan konsentrasi dan hiperaktivitas (ADHD) ada di antara alasan medis yang menyebabkan kemampuan menulis dengan tangan yang buruk.  Begitu juga lemahnya tubuh bagian atas dan keterampilan persepsi visual yang buruk.  Guru dan dokter mungkin bisa memberi saran untuk berkunjung pada terapis yang baik.

            Tapi di atas semua itu, “Yang menjadi masalah sebenarnya adalah isi dan kebenaran suatu tulisan, bukan tulisannya,” kata Karres.  “Ada anak yang lebih bagus tulisannya ketimbang teman-temannya.  Kita syukuri saja bakat anak kita dan keunikannya.”